Kamis, 08 Oktober 2015

Indonesia Offroad News

Event Off road Indonesia
 Banjir Jimny Indonesia 5



Antusiasme adalah sebuah aset yang cukup berharga. Seperti yang dilakukan komunitas pecinta Jimny. Yang mampu membuktikan keampuhan antusiasme untuk membuat ruang komunikasi baru, yang kemudian dikenal sebagai Banjir Jimny. 
 Hajatan tahunan yang telah digelar beberapa kali ini tergolong sukses, dan selalu ditunggu pecinta Jimny di Tanah Air. Sudah tentu, nama Banjir Jimny sendiri pun menjadi modal yang cukup bernilai, disamping faktor antusiasme tadi.
 Kali ini, hajatan kelima Banjir Jimny digelar di Cibinong, Jawa Barat pada awal Desember 2014 silam. Kembali lagi antusiasme menjadi motor penggerak utamanya. Boleh dikata, hampir semua pencinta Jimny menunggu momen ini, dan yang menyiapkan kendaraannya jauh-jauh hari untuk dipamerkan atau bahkan untuk ditransaksikan.
Salah satunya Medi Efendi dari Palembang, yang rela menyisihkan waktunya hampir setahun untuk membangun Jimny pikapnya, kemudian hadir untuk memamerkan di Banjir Jimny. Begitupun Guntur Hidayat, yang tidak pernah absen pada setiap gelaran Banjir Jimny. “Tujuan utama saya tak lain bersilaturahmi dengan para pecinta Jimny, dan tentu juga untuk mencari part, aksesori ataupun segala sesuatu tentang Jimny,” ujar pencita Jimny dari Tulang Bawang, Lampung Ini.
Tak hanya hanya semata menjadi ajang silaturahmi, namun Banjir Jimny pun tumbuh menjadi ajang bisnis yang cukup besar. “Di sinilah kita mampu bertatap muka secara langsung dengan pemakai Jimny dari seluruh pelosok Tanah Air,” tutur Arbi dari Garasi Aksesoris Jimny. “Pada kesempatan ini pun, kita mampu melihat trend pasar dan juga kebutuhannya,” sambung Agus dari Toko 79.Sedikit catatan pada gelaran kali ini, antusiasme yang ada sepertinya kurang bisa dilihat potensinya oleh pihak penyelenggara. Kali ini, acara nampak kedodoran dan kurang matang. Ketidakjelasan dalam susunan acara membuat hajatan yang seharusnya luar biasa ini seperti layang-layang kehilangan angin. “Susunan kegiatannya terkesan kurang teroganisir, sehingga banyak peserta yang kebingungan tidak tahu harus berbuat apa,” terang Medi yang merasa informasinya miskin. “Untung kita bertemu dengan rekan-rekan yang memiliki minat sama pada Jimny sehingga keadaan tetap cair,” keluh Yuda, pengguna Jimny dari Bandung. “Biasanya acara digelar dua hari, namun kali ini acara bak diproyeksikan untuk sehari saja, walau pada prakteknya tetap diteruskan hingga hari berikutnya,” ungkap Odoy dari All Jimny Need. “Hari kedua sebagai klimaks para tamu dan juga pedagang, tidak pernah ada,” tuturnya.
Memang, rencana dan praktek terkadang berseberangan. Akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dibutuhkan pula rencana yang matang. Pengalaman di Banjir Jimny V ini jangan sampai mematikan semangat yang sebelumnya menggelora.Semua yang tidak baik, dapat menjadi catatan supaya gelaran selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Bagi para penggemar Jimny, jangan putus semangat dan tetap solid untuk menyongsong Banjir Jimny selanjutnya.

0 komentar:

Posting Komentar